Nasib Penjual Roti

           Sore itu aku berjalan keluar dari rumah, dengan maksud mencari penjual roti yang biasa berjualan di ujung gang rumahku. Perlahan aku berjalan sambil merasakan suara gaduh perutku yang mulai lapar. Di dalam saku celanaku hanya ada dompet dan handphoneku yang selalu ku bawa bila bepergian. Setibanya di ujung gang telah nampak penjual roti yang menyajikan roti dangangannya dengan berbagai macam rasa.

“Pak, rotinya ada yang rasa apa saja ya?” Tanyaku.

“Oh banyak neng, ada rasa cokelat, stroberi, nanas, dll” Jawabnya.

“Saya mau yang cokelat pak, berapa harganya?” Tanyaku.

“Dua ribu rupiah saja neng” Jawabnya.

Aku pun membayar roti tersebut lalu kembali ke rumah. Malam pun tiba, suara angin berdesis kencang melewati rumahku, dan tiba-tiba “breeeesssssss…” Hujan pun turun menambah dinginnya malamku. Di tengah guyuran hujan, terlintas dipikiranku bagaimana keadaan penjual roti yang tadi aku beli. Dari pagi hingga malam dia terus berjualan dengan menggunakan gerobak pikulnya tanpa bernaung di satu tempat yang beratap.

Keeseokan harinya aku pun berniat kembali untuk membeli roti itu. Berjalan sendiri, dari rumah hingga ke ujung gang, dengan menggunakan sandal jepit, aku melangkah dengan perlahan. Setibanya di ujung gang tak nampak penjual roti yang biasa berjualan disitu.

“Permisi pak, kemana penjual roti yang biasa berjualan disini?” Tanyaku pada seorang tukang ojek yang biasa berada di ujung gang.

“Oh… dia hari ini tidak berjualan neng. Semalam dia kehujanan, jadi hari ini sakit dan sedang istirahat di rumahnya” Jawabnya.

“Oh begitu pak? Memangnya tidak ada keluarga yang menggantikan berjualan rotinya?” Tanyaku lagi.

“Tidak ada neng, dia itu sebatang kara, tidak punya sanak saudara lagi, semuanya telah meninggal dunia, termasuk istri yang baru dinikahinya 2 tahun lalu” Jawabnya.

“Oooh… jadi dia hidup sendiri ya pak? Sungguh kasihan sekali, padahal saya berniat membeli rotinya lagi” Kataku.

Dalam hati ku berpikir, apakah aku ke rumahnya saja untuk membeli sisa rotinya sekaligus menjenguknya.

“Kalau boleh tahu, bapak tahu dimana rumahnya?” Tanyaku lagi pada tukang ojek itu.

“Rumahnya tidak terlalu jauh kok neng, hanya 2 gang dari sini” Jawabnya.

“Oke baik pak, terima kasih atas infonya” Jawabku.

Akhirnya ku bulatkan niat untuk ke rumah si penjual roti tersebut. Sambil berjalan kaki, terdengar suara batu dan kerikil yang kutendang saat melangkah menuju gang rumah penjual roti itu.

Sesampainya di rumah penjual roti tersebut, terenyuhlah hatiku sambil melihat kondisi rumahnya yang cukup memprihatinkan. Dengan bangunan yang hanya semi permanen dan atap yang menggunakan bahan seng bekas, disanalah penjual roti itu bertahan hidup.

“Tok..tok..tok..! Permisi…” Suaraku saat mengetuk pintu rumahnya.

“Iyaaa…” Terdengar suara dari dalam rumahnya.

“Kreeeeeekk…..” Pintu pun dibukakan.

“Permisi pak…” Kataku.

“Eh.. si eneng! Ada apa ya?” Jawabnya.

“Tidak apa-apa pak, saya cuma mau beli rotinya tapi bapak tidak berjualan hari ini. Saya tanya tukang ojek katanya bapak sakit ya?” Tanyaku.

“Iya nih, saya sedang tidak enak badan akibat semalam kehujanan” Jawabnya.

“Memangnya tidak ada yang menggantikan bapak berjualan roti?” Tanyaku.

“Tidak ada neng. Sudah sejak 2 tahun lalu saat istri saya meninggal saya hidup sendiri, sanak saudara pun sudah tidak punya” Jawabnya sedih.

Mendengar pernyataannya, hati saya pun menjadi sedih. Membayangkan pekerjaannya sebagai penjual roti untuk menghidupi diri sendiri, dengan kondisi rumah yang sedemikian rupa, namun ia tetap gigih menjual roti dari pagi hingga malam yang berharga 2 ribu rupiah per potongnya.

“Oh begitu pak, saya turut prihatin pak atas nasib bapak. Ngomong-ngomong masih ada sisa roti yang kemarin pak? Saya ingin membelinya lagi.” Tanyaku.

“Masih ada neng, mari masuk dulu neng.” Jawabnya penuh rasa senang.

Setelah bapak itu pergi meninggalkan saya sendiri diruang tamu, saya melihat-lihat seisi rumah yang sangat sederhana itu. Selagi saya melihat-lihat ada sebuah figura foto yang sudah berdebu. Lalu kutiup debu yang ada difigura itu dan terlihat foto sepasang pengantin yang harmonis dengan memakai pakain pengantin berwarna biru. Wanita didalam foto itu terlihat begitu bahagia dan begitu pula pasangannya. Sungguh terlihat harmonis, sampai akhirnya saya menitikkan air mata karena mengingat wanita itu sudah meninggal dunia. Ketika saya menangis dan berniat untuk melihat-lihat figura foto lainnya, bahu saya ditepuk oleh seseorang. Dan saya pun melihat kebelakang, ternyata ada bapak yang sedang memegangi keranjang yang berisikan beberapa roti.

“Eh, eneng kenapa menangis?” Tanyanya serius.

“Eh, enggak pak. Tadi saya hanya sedih melihat foto itu. Karena saya ingat tadi bapak bilang istri bapak sudah meninggal. Jadi saya merasa sedih padahal difoto itu beliau tampak bahagia di samping bapak. Maaf ya pak saya jadi terbawa suasana sedih.” Jawabku.

“Tidak apa-apa neng. Tidak usah dipikirkan lagi neng. Mungkin ini semua memang sudah menjadi takdir saya.” Ujarnya.

“Ini neng silahkan dipilih rotinya mau yang rasa apa?” Pinta penjual roti itu.

“Bagaimana kalau saya membeli semua sisa roti ini pak. Dengan begitu uangnya bisa untuk berobat bapak ke puskesmas.” Jawabku.

“Wah, terima kasih banyak ya neng. Ternyata masih ada orang baik seperti eneng.” Kata penjual roti itu.

“Bisa saja bapak ini. Kita sesama manusia harus saling membantu, seperti yang diajarkan orang tua saya. Jadi berapa total seluruhnya pak?” Jelasku.

“Iya neng. Memang harus kita bertenggang rasa terhadap sesama supaya kelak kita akan dapat pahala yang setimpal diakhirat. Jadi total seluruhnya Rp 30.000 neng.” Ujarnya.

“Amin… Oh iya. Ini ya pak ambil saja kembaliannya untuk menambah uang berobat bapak.” Jawabku.

“Ih, jangan atuh neng. Ini kembaliannya buat eneng saja” Jawabnya.

Dengan perasaan tidak enak saya pun menjawab.

“Sudah tidak apa-apa pak, untuk bapak saja saya ikhlas kok untuk membantu bapak” Tegasku.

“Baiklah kalau eneng memang sudah ikhlas membantu, saya terima kembaliannya ya.. Terima kasih banyak ya neng” Kata penjual roti.

Dengan perasaan senang sudah bisa membantu penjual roti itu, saya pun berpamitan pulang dan mendoakan semoga lekas sembuh dan dapat berjualan kembali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: