Review 2 KEDUDUKAN DAN KIPRAH KOPERASI DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN UMKM

REVIEW

KEDUDUKAN DAN KIPRAH KOPERASI DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN UMKM

OLEH :

Slamet Subandi∗

 

      II.            Kedudukan dan Kiprah koperasi dalam era Tahun 2000-an

 

  1. Kedudukan koperasi dalam System perekonomian Nasional

Walaupun koperasi telah berdiri di Indonesia sejak sebelum kemerdekaan, tetapi kinerja koperasi sebagai institusi solusi pemberdayaan ekonomi rakyat (yang pada waktu itu disebut Bumi Putera) belum pernah mencapai harapan. Kinerja koperasi terus mengalami pasang surut sampai pada suatu saat (dekade tahun 1990-an) mengalami titik terendah (stagnan), bahkan kemudian menurun (periode reformasi), sehingga sekarang ini koperasi oleh sebagian besar masayarakat hanya dianggap sebagai solusi kelembagaan pembangunan UKM yang banyak bermasalah.

Ketidakmampuan koperasi untuk menjadi solusi kelembagaan andalan pemberdayaan UKM  bukan karena konsepsi dasar kelembagaan koperasi yang salah, tetapi lebih banyak disebabkan oleh komitmen politik dan  pendekatan  pembangunan,  yang  secara  langsung  dipengaruhi  oleh politik dan perekonomian dunia. Kondisi globalisasi merupakan salah satu faktor yang seharusnya mendorong pengembangan koperasi (tantangan agar kelompok UKM bersatu dalam rangka meningkatkan skala usaha dan efisiensi), bahkan sekarang sebaliknya menjadi kendala yang menghambat kelangsungan pengembangan koperasi. Hal ini terkait nampaknya terkait juga dengan pola pembangunan koperasi yang mengedepankan aspek usaha dan indikator keberhasilan kuantitatif, yang tidak mendukung kebersamaan dalam koperasi.

 

  1. Asas dan Prinsip koperasi

Pembangunan atau pemberdayaan koperasi idealnya harus dimulai dengan memperhatikan asas dan prinsip-prinsip koperasi. Asas gotong royong dan kekeluargaan yang dianut oleh koperasi sudah secara tegas dinyatakan dalam amanat konstitusi. Sedangkan prinsip-prinsip dasar koperasi sebagian besar sudah sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakat di Indonesia sekarang ini (yang diwarnai dengan ketimpangan dan banyaknya jumlah orang miskin dan pengangguran.

 

1)         Pengertian koperasi

(1).   Dalam ILO recommendation nomor 127 pasal 12. Dirumuskan bahwa koperasi adalah suatu kumpulan orang-orang yang berkumpul secara sukarela untuk berusaha bersama mencapai tujuan bersama melalui organisasi yang dikontrol secara demokratis, bersama-sama berkontribusi sejumlah uang dalam membentuk   modal   yang   diperlukan   untuk   mencapai   tujuan bersama tersebut dan bersedia turut bertanggung jawab menanggung   resiko   dari   kegiatan   tersebut,   turut   menikmati manfaat usaha bersama tersebut, sesuai dengan kontribusi permodalan yang diberikan   orang-orang tersebut, kemudian orang-orang tersebut secara bersama-sama dan langsung turut memanfaatkan organisasi tadi.

(2).  Menurut Internasional Cooperative Allience (ICA). Koperasi adalah perkumpulan dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi-aspirasi  ekonomi,  sosial  dan  budaya bersama,  melalui perusahaan yang mereka milik bersama dan mereka kendalikan secara demokratis,

(3).  Menurut Undang-Undang nomor 25 tahun 1992 (Pasal 1 ayat 1) koperasi  adalah  Badan  usaha  yang  beranggotaan  orang-orang yang  berkumpul  secara  sukarela  (pasal  5  ayat  I  a.)  untuk mencapai kesejahteraaan (pasal 3) memodali bersama (pasal 4.1) dikontrol secara demokratis (pasal 5 ayat b) orang-orang itu disebut pemilik danpangguna jasa koperasi yang bersangkutan (pasal 17 ayat 1)

(4).  Dari berbagai pengertian koperasi Ibnu Soedjono (2000), salah seorang pakar koperasi yang pemikiran-pemikirannya perlu dipahami mendefinisikan koperasi sebagai: koperasi adalah perkumpulan otonom dari orang-orang yang bersatu secara sukarela untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan dan aspirasi- aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis.

 

2)      Nilai- Nilai koperasi

Nilai-nilai dalam koperasi merupakan salah satu aspek penting  yang membedakan koperasi dengan badan usaha ekonomi lainnya, karena dalam nilai-nilai koperasi terkandung unsur moral dan etika yang tidak semua dimiliki oleh badan usaha ekonomi lainnya, Dalam hal ini Ibnu Soedjono berpendapat bahwa, koperasi-Koperasi berdasarkan nilai- nilai menolong diri sendiri, tanggung jawab sendiri, demokrasi, persaingan, keadilan dan kesetiakawanan. Mengikuti tradisi para pendirinya, anggota koperasi percaya pada nilai-nilai etis, dari kejujuran, keterbukaan, tanggung jawab sosial serta kepedulian terhadap orang lain.

Prinsip menolong diri sendiri (sel-help) percaya pada diri sendiri (self-reliance)   dan   kebersamaam   (cooperation)   Dalam   lembaga koperasi akan dapat melahirkan efek sinergis. Efek ini akan menjadi suatu kekuatan yang sangat ampuh bagi koperasi untuk mampu bersaing dengan lembaga ekonomi lainnya, apabila para anggota koperasi mengoptimalkan partisipasinya, baik partisipasi sebagai pemilik maupun partisipasi sebagai pemakai.

 

3)      Prinsip-prinsip koperasi

ICA (1999) merumuskan prinsip-prinsip koperasi adalah :

  • Pertama : Koperasi adalah perkumpulan sukarela, terbuka bagi semua orang yang mampu menggunakan jasa-jasa perkumpulan dan bersedia menerima tanggung jawab keanggotaan tanpa diskriminasi gender, sosial, rasial, politik dan agama.
  • Kedua    : koperasi adalah perkumpulan demokratis, dikendalikan oleh para anggotanya yang secara akfif berpartisipasi dalam penetapan kebijakan-kebijakan perkumpulan dan mengambil keputusan-keputusan
  • Ketiga    : Anggota     koperasi     menyumbang     secara     adil     dan mengendalikan   secara   demokratis,   modal   dari   koperasi mereka
  • Keempat : Koperasi  bersifat  otonom,  merupakan  perkumpulan  yang menolong      diri      sendiri      dan      dikendalikan      oleh anggota-anggotanya
  • Kelima   : Koperasi  menyelenggarakan  pendidikan  bagi  anggotanya, para wakil yang dipilih, manajer dan karyawan, agar mereka dapat memberikan sumbangan yang efektif bagi perkembangan koperasi
  • Keenam : Koperasi dapat memberikan pelayanan paling efektif kepada para ngggotanya dan memperkuat gerakan koperasi dengan cara kerjasama melalui struktur lokal, nasional, regional, dan internasional
  • Ketujuh  : Koperasi bekerja bagi pembangunan yang berkesinambungan dari komunitas mereka melalui kebijakan yang disetujui anggotanya.

 

4)      Keanggotaan koperasi

Berdasarkan pengertian koperasi yang dikemukakan oleh ICA di atas maka : “Anggota koperasi adalah orang-orang yang berkumpul, bersatu secara     sukarela     untuk     memenuhi     kebutuhan-kebutuhan     dan aspirasi-aspirasi ekonomi, sosial dan budaya bersama, melalui perusahaan yang mereka miliki bersama dan mereka kendalikan secara demokratis”.

Dalam suatu organisasi yang memiliki karakteristik suatu kelembagaan seperti koperasi, dipihak yang satu keberadaan anggota adalah sebagai pernilik berkewajiban memberikan konstribusi pada organisasinya. Dipihak yang lain anggota sebagai pemakai mempunyai hak untuk memperoleh insentif atau manfaat dari organisasi koperasi. Dengan kedua fungsi tersebut, anggota koperasi mempunyai kedudukan sentral dalam koperasi sebagai suatu kelembagaan ekonomi. Dilihat dari pengertian dasar, sifat, ciri keanggotaan, dan hak, serta kewajiban anggota   dalam organisasi koperasi, makai kedudukan anggota dapat diuraikan menjadi  :

a)      Pemilik, pemakai, sekaligus pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi koperasi (melalui Rapat Anggota Tahunan).

b)      Orang-orang     yang     mempunyai     kesepakatan     berdasarkan kesadaran rasional dan utuh yang secara bersama-sama memenuhi kepentingan ekonomi dan sosial mereka, baik sebagai konsumen, sebagai produsen, maupun sebagai anggota masyarakat yang hidup dan berinteraksi dalam suatu komunal.

c)       Keanggotaannya bersifat sukarela dan terbuka untuk setiap warga negara yang memenuhi persyaratan-persyaratan spesifikasi koperasinya.

d)      Keanggotaannya melekat pada diri pribadi orang-orangnya;

  1.  memiliki rasa senasib dalam upaya memenuhi kepentingan ekonomi dan sosialnya,
  2. memiliki    keyakinan    bahwa    hanya    dengan    bergabung bersama-sama maka kepentingan ekonomi dan sosialnya secara bersama-sama akan dapat diselesaikan.
  3. memiliki kesamaan dalam jenis kepentingan ekonominya.

e)      Keanggotaan koperasi merupakan keputusan berdasarkan tingkat kesadaran rasional dari orang-orang yang

  1. merasa cocok bila mereka melakukan kegiatan tolong-menolong khususnya dalam bidang ekonomi,
  2. merasa kuat bila mereka bersatu menjadi anggota  Koperasi,  dan
  3. merasa tidak  perlu  bersaing  dengan kegiatan usaha koperasinya.

 

5)      Organisasi dan koperasi

Organisasi  sering  diartikan  sebagai  interaksi  dan  kerja  sama antara dua orang/pihak atau lebih untuk mencapai tujuan tertentu, di dalam sebuah perusahaan, kerja sama ini mutlak diperlukan karena kegiatan dalam perusahaan sangat kompleks, beraneka ragam, dan saling terkait antara yang satu dan yang lain. Kerja sama ini tidak terbatas antar karyawan di dalam perusahaan tetapi juga dengan berbagai pihak di luar perusahaan yang terkait dengan kegiatan perusahaan.

Organisasi koperasi dibentuk atas dasar kepentingan dan kesepakatan anggota  pendirinya  dan  mempunyai  tujuan  utama  untuk lebih mensejahterakan anggotanya. Sistem kontribusi insentif sangat relevan   dalam   suatu   organisasi   koperasi.   Sistem   tersebut   dapat menjamin eksistensi koperasi dan sekaligus merangsang anggota untuk lebih   berpartisipasi   secara   aktif.   Dalam   pembicaraan   mengenai organisasi di masyarakat, khususnya di daerah pedesaan, kiranya lebih dulu perlu dipahami bahwa basis terendah dalam kehidupan pedesaan adalah  “desa”,  atau  kampung  dusun-dusun  kecil  yang  penduduknya hidup berkelompok dengan keterikatan/ketergantungan antar individu yang sangat erat. Komunitas penduduk berlangsung dalam rangka membangun kehidupan yang pada awalnya bersifat subsistem. Meskipun demikian (pola hidup subsistem), kaitan pemasaran sudah ada dengan daerah urban yang lebih modern. Dalam hal ini yang dikenal sebagai pedesaan adalah kumpulan rumah tangga petani yang secara tradisional mengambil keputusan-keputusan produksi, konsumsi, dan investasi. Di sektor   perkotaan   kegiatan   yang   sama   dilakukan   oleh   lembaga perusahaan dan rumah tangga secara terpisah dengan tujuan memaksimumkan penghasilan perusahaan. Oleh sebab itu yang diperlukan  adalah  aktualisasi   dari   prinsip-prinsip   tersebut   sebagai berikut :

a)      Kelompok koperasi (Cooperative Groups);  Bahwa koperasi adalah kelompok orang yang mempunyai tujuan dan kepentingan yang sama  yaitu  meningkatkan  kemampuan  ekonomi  secara berkelompok dengan harapan akan memperbesar skala ekonomi mereka yang berdampak akhir pada meningkatnya efisien dari kegiatan (jual-beli) yang dilakukannya bersama-sama.

b)      Menolong diri sendiri (Self Help Organization); Bahwa dengan berkelompok mereka akan menjadi lebih besar dan lebih kuat posisinya dalam pasar, sehingga mereka dapat menolong diri sendiri.

c)       Perusahaan   koperasi   (Cooperative   Enterprises)   dan;   Bahwa koperasi merupakan perusahan yang jika dalam kegiatan usahanya mendapatkan nilai lebih maka kelebihan yang diterima dapat dikembalikan lagi kepada anggotanya dan atau dapat dijadikan tambahan modal usaha serta investasi.

d)      Meningkatkan  keuntungan  ekonomi  anggotanya  (member promotion): Tujuan berkoperasi adalah kebersamaan dalam rangka meningkatkan efisiensi dengan memperbesar skala ekonomi (economic of scale) , mengurangi resiko usaha (down sizing) dan kontribusi insentif (incentive contribution).

Dari prinsip dan tujuan koperasi tersebut, selama ini baru sangat sedikit   yang   dapat   diakomendir   oleh   gerakan   koperasi,   bahkan sebaliknya ada unsur-unsur yang sama sekali belum dapat dilaksanakan seperti menolong diri sendiri dan efisiensi biaya. Kondisi yang demikian sering dikaitkan dengan kondisi ekonomi anggota koperasi yang rata- rata terbilang miskin (dibawah pendapatan rata-rata nasional) dan arah pembinaan  pemerintah  yang  lebih  pada  pembangunan  usaha ketimbangan pengkaderan koperasi.

Buruknya kinerja koperasi ternyata diperparah oleh kurang baiknya kinerja pembina. Kondisi seperti ini sebenarnya sudah diketahui sejak era orde baru, yang diduga terkait erat dengan pendekatan, strategi dan  pola  pembinaan  serta  kualitas  SDM  pembina.  Dalam  hal  ini Nasution 1990 dalam desertasinya mengatakan bahwa kunjungan pembina membawa dampak negatif bagi kenerja koperasi (KUD), yang diindikasikan dari semakin banyak kunjungan pembina ke suatu KUD maka akan semakin cepat KUD tersebut mengalami penurunan kinerjanya. Perbaikan konsepsi pembinaan ternyata sampai sekarang ini belum  banyak mendapat perhatian dari pemerintah dan hal ini diduga terkait dengan komitmen politik untuk memberdayakan koperasi yang cukup kuat, sehingga pembenahan permasalahan tersebut belum mendapat respon yang significant dari Pemerintah.

Permasalahan diatas nampaknya juga terkait dengan masalah- masalah  internal  koperasi  yang  belum  terselesaikan  antara  lain;

a)      Proses penyempurnaan RUU Perkoperasian yang sudah tersendat hampir 4 tahun;

b)      Pergantian Pengurus Dewan koperasi Indonesia (DEKOPIN) yang berakhir kisruh sehingga gerakan koperasi pecah menjadi beberapa kelompok;

c)       Koperasi tidak diberikan peran dalam agenda Dan Prioritas Pembangunan Nasional dalam kurun waktu tahun 2004 sampai dengan tahun 2009 (dalam pidato Kenegaraan Presiden SBY tanggal 16 Agustus2006 tidak menyebutkan koperasi); d) dalam dunia pendidikan mata ajaran perkoperasian menjadi pelajaran pilihan dan sampai sekarang belum ada standar baku untuk mata ajaran tersebut dan;

d)      Promosi, penyuluhan dan sosialisasi koperasi di media masa selama era reformasi hampir tidak pernah ada lagi.

Disamping masalah makro di atas, dalam gerakan koperasi juga terdapat masalah mikro yang sangat mempengaruhi kinerja koperasi, yang sampai sekarang ini   juga belum terselesaikan antara lain:

a)      Anggota koperasi cenderung hanya sebagai pemilik tetapi bukan sebagai pengguna yang diindikasikan dari rendahnya keterkaitan usaha antara anggota dan koperasi yang secara langsung mempengaruhi rendahnya manfaat koperasi buat anggota;

b)      Kepentingan bisnis koperasi lebih diutamakan (menyolok) daripada kepentingan anggotanya;

c)       Partisipasi anggota sebagai pemilik dan pengguna sangat rendah;

d)      Rasa kebersamaan diantara anggota maupun antara anggota dengan koperasi juga hampir tidak ada;

e)      Kaderisasi sangat jarang dilakukan dan jika adapun sifatnya temporary atau tidak berkesinambungan serta;

f)       Proses Penyuluhan, pendidikan dan pelatihan tidak berjalan dengan baik dan berkesinambungan serta hasil-hasil penelitian ataupun pemikiran- pemikiran  ilmiah  tidak pernah  dimanfaatkan  sebagai  bahan  masukan dalam pengambilan keputusan oleh para pengambil kebijaksanaan.

 

 

Nama                    : Ari Sulistyawati

NPM                      : 21211084

Kelas                     : 2EB09

Tahun                   : 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: