Review 1 EVALUASI PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KOPERASI SWADHARMA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MATURITY LEVEL PADA KERANGKA KERJA COBIT PADA DOMAIN PLAN AND ORGANISE

REVIEW

EVALUASI PERAN SISTEM INFORMASI MANAJEMEN KOPERASI SWADHARMA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL MATURITY  LEVEL PADA KERANGKA KERJA COBIT PADA DOMAIN PLAN AND ORGANISE

OLEH :

Rahmadani Darwas

                    I.                        Abstraksi

Implementasi   teknologi   informasi   untuk  mendukung   Koperasi   Swadharma   dalam mencapai tujuannya sudah merupakan suatu kebutuhan yang sangat penting. Evaluasi terhadap peran teknologi informasi dengan menggunakan model Maturity level CobIT Framework  sangat berguna bagi pengguna,  pengembang  teknologi informasi maupun para pengelola. Evaluasi terhadap proses teknologi informasi perlu dilakukan agar manajemen Koperasi Swadharma dapat melakukan perbaikan-perbaikan.

Metode   model maturity level digunakan untuk melihat gambaran kondisi perusahaan saat ini dan di masa yang akan datang. Maturity level menggunakan suatu metode  penilaian  sedemikian  rupa  sehingga  suatu  organisasi  dapat  menilai  dirinya sendiri dari non-existence ke optimized (dari 0 ke 5).

Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa peran teknologi informasi pada Koperasi Swadharma dalam skala maturity model adalah skala 3 (defined process). Hal ini menunjukkan  bahwa belum adanya standar operasional prosedur yang jelas untuk melaksanakan  kegiatan  di lingkungan  Koperasi  Swadharma.  Prosedur-prosedur  yang ada di Koperasi Swadharma belum di implementasikan secara optimal. Selain itu belum adanya dokumentasi dan standarisasi yang baku terhadap kinerja IT.

 

Pendahuluan

1.1               Latar Belakang

Teknologi informasi merupakan kebutuhan yang sangat penting bagi suatu perusahaan, termasuk  di dalamnya  Koperasi  Swadharma.  Pengelolaan  informasi  yang  baik  akan menunjang   keberhasilan   organisasi   untuk   memperoleh   keunggulan   yang   lebih kompetitif.  Permasalahan  yang terjadi di lingkungan  Koperasi Swadharma  khususnya pada divisi IT saat ini adalah pelaksanaan kinerja IT belum terdokumentasi dengan baik hal   ini   disebabkan   karena   pergantian   kepemimpinan yang terjadi menyebabkan  perubahan  sistem  terus  menerus  sehingga  kinerja  IT  menjadi  kurang optimal. Selain itu tidak terdapat standarisasi pada Koperasi Swadharma untuk menilai kualitas  software  yang  digunakan  sehingga  tidak  diketahui  apakah  aplikasi  yang digunakan efektif dan efisien untuk proses bisnis yang ada. Dari permasalahan tersebut penulis mencoba untuk melakukan penelitian mengenai “Evaluasi Peran Teknologi Informasi pada Koperasi Swadharma dengan Menggunakan Model Maturity Level pada Kerangka Kerja CobIT pada Domain Plan and Organise”.

 

1.2             Tinjauan Pusataka

 

CobIT (Control Objectives for Information and Related Technology)

CobIT  adalah  sekumpulan  dokumentasi  best  practices  untuk  IT  governance yang dapat membantu auditor, pengguna (user), dan manajemen  untuk menjembatani gap antara resiko bisnis, kebutuhan control dan masalah-masalah teknis IT. CobIT bermanfaat   bagi  auditor  karena  merupakan   teknik  yang  dapat  membantu   dalam identifikasi  IT control issues, CobIT berguna  bagi para IT users karena memperoleh keyakinan atas kehandalan dalam sistem aplikasi yang dipergunakan.  Sedangkan para manajer memperoleh manfaat dalam keputusan investasi di bidang IT serta infrastrukturnya,  menyusun  strategic  IT  Plan,  menentukan  information  architecture, dan keputusan atas procurement (pengadaan/pembelian)  mesin. Disamping itu, dengan keterandalan sistem informasi yang ada pada perusahaannya diharapkan berbagai keputusan bisnis dapat didasarkan atas informasi yang ada (Sanyoto, 2007).

CobiT Framework

Kerangka kerja CobIT terdiri dari beberapa guidelines (arahan), yakni :

 

  1. Control Objectives

Terdiri atas 4 tujuan pengendalian tingkat tinggi (high level control objectives) yang tercermin dalam 4 domain, yaitu : planning & organization, acquisition & implementation, delivery & support, dan monitoring.

 

  1.  Audit Guidelines

Berisi sebanyak 318 tujuan-tujuan pengendali rinci (detailed control objectives) untuk membantu para auditor dalam memberikan  management  assurance atau saran perbaikan.

 

  1. Management Guidelines

Berisi arahan baik secara umum maupun spesifik mengenai apa saja yang mesti dilakukan, seperti : apa saja indicator untuk suatu kinerja yang bagus, apa saja resiko yang timbul, dan lain-lain.

 

 

  1. Maturity Models

Untuk memetakan status maturity proses-proses IT (dalam skala 0 – 5).

 

CobIT merupakan panduan yang paling lengkap dari praktik-praktik terbaik untuk manajemen IT yang mencakup 4 (empat) domain, yaitu: perencanaan  dan organisasi, akuisisi   dan   implementasi,   penyerahan   dan   dukungan,IT,   dan   monitor.   CobIT framework mencakup tujuan pengendalian yang terdiri dari 4 domain, yaitu :

  1. Perencanaan dan Organisasi (Planning and Organization)

Mencakup strategi dan taktik yang menyangkut identifikasi tentang bagaimana TI   dapat   memberikan   kontribusi   terbaik   dalam   pencapaian   tujuan   bisnis organisasi sehingga terbentuk sebuah organisasi yang baik dengan infrastruktur teknologi yang baik pula.

 

  1. Perolehan dan Implementasi (Acquisition and Implementation)

Identifikasi solusi TI dan kemudian diimplementasikan dan diintegrasikan dalam proses bisnis untuk mewujudkan strategi TI.

 

  1. Penyerahan dan Pendukung (Delivery and Support)

Domain yang berhubungan dengan penyampaian layanan yang diinginkan, yang terdiri  dari  operasi  pada  sistem  keamanan  dan  aspek  kesinambungan  bisnis sampai dengan pengadaan training.

 

  1. Monitoring

Semua proses TI perlu dinilai secara teratur dan berkala bagaimana kualitas dan kesesuaiannya dengan kebutuhan kontrol.

 

Maturity Model

Maturity   model   di   desain   sebagai   profil   dari   IT   processes   yang merupakan  penggambaran  kondisi  perusahaan  saat  ini  dan  di  masa  yang  akan datang. Maturity model menggunakan suatu metode penilaian sedemikian rupa sehingga  suatu  organisasi  dapat  menilai  dirinya  sendiri  dari  non-existence  ke optimised  (dari 0 ke 5). Pendekatan  ini dikembangkan  dari maturity model yang digunakan oleh Software Engineering Institute untuk menilai kemapanan pengembangan software. Dengan menggunakan maturity model untuk tiap-tiap satu dari 34 proses IT, manajemen dapat memetakan :

  • Status organisasi saat ini – dimana organisasi saat ini
  • Status best-in-class di industri sekarang – sebagai perbandingan
  • Strategi organisasi untuk peningkatan – posisi yang ingin dicapai organisasi

marturity model

Dalam ISAC Foundation (2007), untuk memetakan status kematangan proses- proses teknologi informasi dalam skala 0 – 5 . penjelasan lebih rinci mengenai skala 0 –5 sebagai berikut :

 

  1. Skala  0  :  Non-Existent;  Sama  sekali  tidak  ada  proses  IT  yang  diidentifikasi.

Perusahaan belum menyadari adanya isu yang harus dibahas.

 

  1. Skala 1 : Initial; Perusahaan sudah mulai mengenali proses teknologi informasi di perusahaannya, belum ada standarisasi, dilakukan secara individual, dan tidak terorganisasi. Terdapat bukti yang memperlihatkan perusahaan telah menyadari adanya isu yang perlu dibahas. Tidak ada proses yang baku; sebagai gantinya ada pendekatan  khusus  (adhoc)  yang  cenderung  diterapkan  per  kasus.  Pendekatan manajemen secara keseluruhan masih belum terorganisasi.

 

  1. Skala  2 : Repeatable  but  Intuitive;  Perusahaan  sudah  mulai  memilliki  prosedur dalam proses teknologi informasi tetapi tidak ada pelatihan dan komunikasi formal tentang prosedur standar tersebut. Tanggung jawab terhadap proses tersebut masih dibebankan  pada individu dan tingkat ketergantungan  pada kemampuan  individu sangat besar sehingga terjadi kesalahan.

 

  1. Skala 3 : Defined Process; Prosedur di perusahaan sudah distandarisasi, terdokumentasi, dan dikomunikasikan melalui pelatihan tetapi implementasi masih tergantung  pada  individu  apakah  mau  mengikuti  prosedur  tersebut  atau  tidak. Prosedur yang dibuat tersebut tidak rumit, hanya merupakan formalisasi kegiatan yang sudah ada.

 

  1. Skala 4 : Managed and Measurable; Perusahaan dapat mengukur dan memonitor prosedur yang ada sehingga mudah ditanggulangi jika terjadi penyimpangan. Proses yang ada sudah berjalan dengan baik dan konstan. Otomasi dan perangkat teknologi informasi yang digunakan terbatas.

 

  1. Skala 5 : Optimized; Proses yang ada sudah mencapai best practice melalui proses perbaikan  yang terus menerus.  Teknologi  informasi sudah digunakan  terintegrasi untuk   otomatisasi   proses   kerja   dalam   perusahaan,   meningkatkan   kualitas, efektivitas, serta kemampuan beradaptasi terhadap perusahaan.

 

 

 

Nama                    : Ari Sulistyawati

NPM                      : 21211084

Kelas                     : 2EB09

Tahun                   : 2012

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: