Review 3 UKURAN DAYA SAING KOPERASI DAN UKM

REVIEW

UKURAN DAYA SAING KOPERASI DAN UKM

OLEH :

Tulus Tambunan

    III.             Rekomendasi Kebijakan dan Program

Sejak era Orde Baru hingga sekarang sudah banyak sekali upaya pemerintah membantu perkembangan UKM dan koperasi dalam bentuk beragam program, mulai dari pemberian kredit murah hingga bantuan teknis. Namun, pertanyaan sekarang: kenapa UKM Indonesia masih jauh tertinggal dari, misalnya, UKM Taiwan atau UKM di AS? Kenapa koperasi Indonesia masih belum bisa menandingi koperasi di AS atau negara-negara Eropa Barat yang bahkan sudah menjadi pesaing berat perusahaan-perusahaan besar non-koperasi dalam omset maupun jangkauan pasar? Jawabannya adalah sebagai berikut:

1)      selama ini bantuan lebih fokus pada pemberian kredit bukan pada bantuan teknis/teknologi di tiga bidang utama yang sangat menentukan daya saing yakni: produksi, manajemen dan pemasaran..Pemberian dana/kredit-pun lebih untuk modal kerja bukan untuk investasi atau untuk mendanai kegiatan R&D/inovasi.

2)      UKM  dan  koperasi  masih  dilihat  lebih  sebagai  ”alat  untuk  mengurangi  kemiskinan/meningkatkan kesempatan kerja” daripada ”bagian untuk meningkatkan kapasitas dan daya saing industri nasional”; jadi lebih ”berorientasi sosial” daripada ”berorientasi bisnis (murni).”

3)      pemerintah belum serius mengembangkan industri  pendukung yang membuat barang-barang modal dan pembantu serta komponen, dengan UKM sebagai pemain utama

Maka, untuk meningkatkan daya saing global dari UKM dan koperasi di Indonesia, ketiga butir di atas harus berubah.  Bantuan  yang  diberikan  oleh  pemerintah  harus  sepenuhnya  tertuju  pada  upaya  peningkatan kemampuan teknologi’pengetahuan dalam produksi, manajemen dan pemasaran. Fokus dari bantuan harus pada capacity building dengan inovasi (dalam produksi, manajemen dan pemasaran) sebagai motor penggerak utama. Untuk mendukung perubahan strategi ini, maka arah kebijakan pengembangan UKM dan koperasi di masa depan yang tujuan utamanya adalah meningkatkan daya saing dari UKM dan koperasi adalah seperti yang dijabarkan di Tabel 11.

tabel arah kebijakan peningkatan daya saing

Pendekatan strateginya yang tepat adalah melalui clustering, yang berarti program utama peningkatan daya saing  UKM  (dan  koperasi)  adalah  program  pengembangan  klaster-klaster  (atau  sentra-sentra)  UKM. Pendekatan clustering ini sudah terbukti di banyak negara seperti di Eropa dan lainnya12 sangat ampuh dalam meningkatkan   kemampuan   inovasi   dan   daya   saing   global   dari   UKM.  Di   dalam  literatur   mengenai pengembangan UKM sudah ada kesepakatan bersama bahwa paling tidak ada tiga keuntungan utama dari pengembangan UKM berdasarkan clustering:

1)        UKM lebih mudah mengatasi semua kekurangan/hambatan dalam segala aspek bisnis mulai dari pengadaan bahan baku, proses produksi, distribusi dan pemasaran, pendanaan, perbaikan mesin, dll, dibandingkan jika UKM beroperasi sendiri-sendiri. UKM di dalam sebuah klaster akan menikmati apa yang dimaksud dengan ”keuntungan  ekonomi aglomorasi”.

2)        Lebih efisien dan efektif dalam pemberian bantuan atau kerjasama antara UKM dengan pihak lain, misalnya, UB dalam kegiatan subcontracting, perbankan dalam penyaluran kredit, dan eksportir, pedagang atau distributor dalam pemasaran. Efek ini yang dimaksud oleh Schmitz (1995, 1999) sebagai “efisensi kolektif”.

3)        Proses peralihan teknologi/pengetahuan dari sumber luar (misalnya dari perusahaan multinasional; MNCs) ke UKM dan penyebarannya antara sesama UKM lebih gampang, lebih efisien, dan lebih efektif di dalam sebuah klaster dibandingkan jika unit-unit UKM sangat terpencar lokasinya satu dari yang lainnya. Ini artinya juga bahwa inovasi lebih mudah terjadi di dalam sebuah klaster.13 Pengalaman dari UKM di sentra industri logam di Tegal (Jawa Tengah) membuktikan pentingnya peran dari MNCs dalam peralihan teknologi, di satu sisi, dan penyebaran dari teknologi tersebut antar sesama UKM di dalam sentra tersebut. Bahkan peran MNCs lebih besar daripada bantuan teknis dari pemerintah lewat penyediaan unit-unit pelayanan teknis (UPT).

Namun, sebuah klaster tidak akan berhasil, jika dua syarat berikut ini tidak terpenuhi. Pertama, kerjasama antar sesama UKM di dalam klaster harus kuat dalam produksi, pengadaan bahan baku, pemasaran, inovasi, dll. Ini sangat penting, karena banyak klaster industri kecil di Indonesia yang dari dulu hingga sekarang ini tidak berkembang, walaupun ada bantuan dari pemerintah dalam bentuk pengadaan UPT dan laboratorium, karena salah satunya tidak ada kerjasama antara pengusaha di klaster-klaster tersebut. Masing-masing pengusaha jalan sendiri-sendiri. Mereka berada di dalam klaster hanya karena mereka penduduk di desa yang sama, namun tidak memfungsikan klaster seperti seharusnya, yakni menciptakan keuntungan ekonomi aglomorasi. Untuk mengembangkan jaringan kerjasama internal ini, perlu bantuan dari pihak luar, bisa pemerintah atau universitas setempat, karena banyak pengusaha kecil tidak memahami atau tidak melihat adanya keuntungan jika mereka bekerja sama, dan/atau tidak mengetahui bagaimana membangun suatu jaringan kerja sama bisnis.

Kedua,  klaster tersebut harus memiliki jaringan kerja sama yang kuat dengan semua stakeholders, seperti yang dijabarkan di Tabel 11. Banyak sentra-sentra industri kecil di Indonesia tidak mempunyai jaringan kerja eksternal dengan misalnya bank setempat, UB, dan universitas setempat. Tidak akan ada artinya sebuah klaster jika tidak ada jaringan kerja eksternal dengan stakeholders tersebut, karena bagaimanapun juga keberhasilan sebuah klaster atau sentra industri sangat ditentukan oleh kemampuan klaster tersebut untuk menjual produknya ke luar dan mendapatkan input secara efisien dari luar, dan ini semua ditentukan oleh jaringan kerja eksternal dari klaster tersebut.

Jadi, dalam program pengembangan (capacity building) klaster UKM, sasaran utamanya adalah pengembangan teknologi, SDM dan inovasi, pengembangan subcontracting dengan UB/MNCs, promosi dan pemasaran, pengembangan jaringan kerja internal dan eksternal (Tabel 12)

tabel sub program utama

Nama                    : Ari Sulistyawati

NPM                      : 21211084

Kelas                     : 2EB09

Tahun                   : 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: