Review 2 UKURAN DAYA SAING KOPERASI DAN UKM

REVIEW

UKURAN DAYA SAING KOPERASI DAN UKM

OLEH :

Tulus Tambunan

 

 

      II.            Pembahasan

II.1            Identifikasi karakteristik koperasi dan UKM yang berdaya saing yang diinginkan;

Daya saing adalah sebuah konsep yang cukup ruwet. Tidak ada satu indikator-pun yang bisa digunakan untuk mengukur daya saing, yang memang sangat sulit untuk diukur (Markovics, 2005). Namun demikian, daya saing adalah suatu konsep yang umum digunakan di dalam ekonomi, yang biasanya merujuk kepada komitmen terhadap persaingan pasar dalam kasus perusahaan-perusahaan dan keberhasilan dalam persaingan internasional dalam kasus negara-negara. Dalam dua dekade terakhir, seiring dengan semakin mengglobalnya perekonomian dunia dan persaingan bebas, daya saing telah menjadi satu dari konsep-konsep kunci bagi perusahaan- perusahaan, negara-negara, dan wilayah-wilayah untuk bisa berhasil dalam partisipasinya di dalam globalisasi dan perdagangan bebas dunia, seperti yang dikatakan berikut ini  on micro level the concept of competitiveness means the skill of position gain and self-maintainment in the market competition among companies, each other’s competitors and – in respect of macro economy – among national economies (Lengyel 2005, dikutip di Markovics, 2005)

Dengan memakai konsep daya saing, Man dkk. (2002) membuat suatu model konsepsual untuk menghubungkan karakteristik-karakteristik dari manager atau pemilik UKM dan kinerja perusahaan jangka panjang. Model konsepsual untuk daya saing UKM tersebut terdiri dari empat (4) elemen: skop daya saing perusahaan,  kapabilitas  organisasi  dari  perusahaan,  kompetensi  pengusaha/pemilik  usaha,  dan  kinerja. Hubungan antara kompetensi dan tiga elemen lainnya itu merupakan inti dari model tersebut, dan hubungan itu dapat dihipotesakan kedalam tiga (3) tugas prinsip pengusaha: (a) membentuk skop daya saing; (b) menciptakan kapabilitas organisasi; (c) menetapkan tujuan-tujuan dan mencapainya.

Menurut studi ini, daya saing memiliki tiga (3) karakteristik, yakni potensi, proses. Selain tiga karakteristik tersebut, daya saing juga dicirikan oleh orientasi jangka panjang, kontrolabilitas, relativitas, dan dinamika. Selain itu, studi ini menunjukkan bahwa ada tiga aspek penting yang mempengaruhi daya saing UKM, yakni: (1) faktor-faktor internal perusahaan; (2) lingkungan eksternal; dan (3) pengaruh dari pengusaha/pemilik usaha. Selanjutnya,  di  dalam  penelitian  ini,  pengaruh  dari  pengusaha  tersebut  di  tangani  dengan  pendekatan kompetensi dari sebuah proses atau perspektif perilaku.

Dengan  memakai  hasil  studi  tersebut  sebagai  salah  satu  input,  tulisan  ini  menyusun  suatu  kerangka pemikiran mengenai daya saing sebuah UKM sebagai berikut (Gambar 1). Daya saing sebuah perusahaan tercerminkan dari daya saing dari produk yang dihasilkan oleh perusahaan tersebut. Dalam gilirannya, daya saing dari perusahaan tersebut ditentukan oleh banyak faktor, tujuh diantaranya yang sangat penting adalah: keahlian atau tingkat pendidikan pekerja, keahlian pengusaha, ketersediaan modal, sistem organisasi dan manajemen  yang  baik  (sesuai  kebutuhan  bisnis),  ketersediaan  teknologi,  ketersediaan  informasi,  dan ketersediaan input-input lainnya seperti enerji, bahan baku, dll.

Dua faktor pertama tersebut adalah aspek sumber daya manusia (SDM), yang mana, keahlian pekerja tidak hanya dalam teknik produksi (antara lan disain produk dan proses produksi), tetapi juga teknik pemasaran dan dalam penelitian dan pengembangan (R&D). Sedang keahlian pengusaha terutama adalah wawasan bisnis, dan yang  dimaksud  di  sini  adalah  wawasan  mengenai  bisnisnyadan  juga  lingkungan  eksternalnya.7 Wawasan pengusaha yang luas juga sangat penting bagi inovasi, dan bukan lagi rahasia umum bahwa inovasi merupakan kunci  utama  daya  saing.

Bahkan  banyak  literatur  menyatakan  bahwa  banyak  faktor  yang  menentukan  Wawasan mengenai bisnisnya adalah antara lain perkembangan saat ini dank ke depan dari pasar yang dilayani dan juga dari pasar yang belum dilayani (misalnya pasar ekspor), kondisi persaingan (termasuk calon-calon pesaing yang akan muncul), dan segala macam peraturan pemerintah atau dunia (seperti dalam konteks WTO dalam perdagangan internasional) mengenai perdagangan, produksi dan investasi di bidang bisnisnya. Sedangkan yang dimaksud dengan lingkungan eksternalnya adalah kebijakan-kebijakan ekonomi umum seperti kebijakan moneter, kebijakan fiskal, dan kebijakan perdagangan luar negeri, kecenderungan dari perubahan selera masyarakat, perubahan sosial-budaya yang bisa mempengaruhi dalam jangka panjang permintaan atau persepsi pembeli (masyarakat) terhadap produknya, dll.

Kemampuan UKM melakukan inovasi, diantaranya adalah kreativitas pengusaha, dan yang terakhir ini, pada gilirannya, ditentukan oleh wawasannya mengenai bisnis yang ditekuninnya (Shahid, 2007).

daya saing dan faktor utama penentu

Sebuah koperasi atau UKM yang memiliki daya saing yang tinggi dicirikan oleh sejumlah aspek internal perusahaan yang terkait dengan keenam faktor utama penentu daya saing seperti yang diperlihatkan di Gambar I tersebut, dan aspek-aspek eksternal yang terkait dengan kinerja.   Dalam aspek-aspek internal, ada tiga yang paling penting. Pertama, SDM (pekerja dan pengusaha/pemilik usaha). Hipotesanya adalah sebagai berikut: perusahaan dengan daya saing tinggi cenderung memiliki pekerja dan pengusaha dengan keahlian/pendidikan tinggi.

Sebagai ilustrasi empiris, data BPS dapat memberikan gambaran mengenai tingkat pendidikan formal (yang umum digunakan sebagai indikator tingkat keahlian) dari pengusaha di UKM di sektor industri manufaktur (Tabel 1). Dapat dilihat bahwa jumlah pengusaha UKM yang memiliki diploma universitas hanya sekitar 2,20 persen; walaupun tingkat ini bervariasi antara usaha kecil (UK) dan usaha menengah (UM). Ini bisa merupakan salah satu penyebab rendahnya kinerja atau daya saing UKM di Indonesia.

tingkat pendidikan formal daripengusaha ukm

Kedua, ketersediaan atau penguasaan teknologi. Hipotesanya adalah sebagai berikut: perusahaan dengan daya saing tinggi adalah perusahaan yang memiliki/menguasai teknologi yang paling baik (yang biasanya adalah  teknologi  terakhir  yang  ada)  di  dalam  bidangnya.  Aspek  ini  bisa  diidentifikasi  dengan  sejumlah indikator, diantaranya yang umum digunakan dan lebih bersifat proxy adalah tingkat produktivitas. Perusahaan berdaya saing tinggi biasanya juga merupakan perusahaan yang produktif. Sebenarnya tingkat produktivitas, misalnya, tenaga kerja, tidak hanya mencerminkan tingkat penguasaan teknologi oleh pekerja, atau tingkat ketersediaan teknologi di dalam perusahaan, namun juga sebagai sebuah indikator dari tingkat pendidikan dari pekerja. Hipotesanya adalah: dengan teknologi yang ada, semakin tinggi tingkat pendidikan pekerja semakin tinggi produktivitas pekerja, ceteris paribus, yang lainnya konstan tidak berubah.

Sudah banyak literatur mengenai UKM di NSB yang menunjukkan bahwa salah satu ciri dari UKM adalah rendahnya tingkat produktivitas di kelompok usaha tersebut.8 Data BPS mengenai industri manufaktur menurut skala usaha juga menunjukkan hal yang sama: tingkat produktivitas tenaga kerja cenderung meningkat menurut skala usaha. Seperti yang dapat dilihat di Tabel 2, rasio output terhadap tenaga kerja di UK (termasuk usaha mikro) jauh lebih rendah dibandingkan di UM dan UB

produktivitas TK industri manuf

Selain produktivitas, kegiatan inovasi juga bisa digunakan sebagai salah satu indikator. Perusahaan yang mampu melakukan inovasi, dalam produk, proses produksi, organisasi, manajemen, sistem pemasaran, dan aspek-aspek bisnis lainnya, dapat dipastikan adalah perusahaan yang memiliki daya saing yang tinggi. Namun tidak gampang mengidentifikasi secara langsung perusahaan-perusahaan yang melakukan inovasi, apalagi inovasi dalam proses produksi atau marketing. Oleh karena itu ada sejumlah alat ukur yang dapat digunakan, dua diantaranya yang umum dipakai karena mudah menerapkannya selama ada data, adalah jumlah sertifikat menyangkut inovasi (misalnya ISO) yang dimiliki oleh sebuah perusahaan, dan pengeluaran R&D.

Sayangnya,  tidak  ada  data  mengenai  dua  variabel  tersebut  untuk  UKM  di  Indonesia.  Data  yang  ada sementara ini adalah dari Survei Perusahaan di Dunia 2007 dari Bank Dunia dan the International Finance Corporation (IFC) (Tabel 3), tetapi data tersebut tidak membedakan usaha menurut skala. Namun demikian, jika rasio-rasio yang ditunjukkan di tabel tersebut dapat diasumsikan juga berlaku bagi UKM secara umum, maka tabel tersebut menunjukkan bahwa tingkat daya saing UKM di Malaysia atau Thailand lebih tinggi daripada di Indonesia.

Ketiga, organisasi dan manajemen. Kerangka pemikirannya adalah sebagai berikut. Seperti telah dijelaskan sebelumnya bahwa inovasi merupakan kunci dari daya saing, dan untuk bisa melakukan inovasi, perusahaan bersangkutan harus bisa menyiapkan tenaga kerja terdidik, modal yang cukup, teknologi, membangun jaringan kerja dengan pihak lain, khususnya lembaga R&D atau universitas, bank, pemerintah. Dalam kata lain, untuk bisa melakukan inovasi agar bisa unggul dalam persaingan, sebuah perusahaan tidak bisa menerapkan suatu sistem  organisasi  dan  manajemen  yang  sederhana.  Sementara,  sebagian  besar  UKM,  khususnya  UK,  di Indonesia sama sekali tidak menerapkan sistem organisasi dan manajemen yang umum diterapkan di dalam dunia bisnis modern. Banyak UK di mana pengusaha mengerjakan semua kegiatan: produksi, pengadaan bahan baku, pemasaran, dan administrasi, dan tidak menerapkan pembukuan, atau kalau ya, dengan cara yang primitif.

tabel inovasi pada tk perush

Sedangkan  dari  aspek-aspek  eksternal  yang  menyangkut  kinerja  perusahaan  adalah  terutama  volume produksi, pangsa pasar, dan orientasi pasar (melayani hanya pasar domestik atau juga pasar luar negeri), atau diversifikasi pasar (terkonsentrasi pada pasar tertentu atau menyebar ke pasar di banyak wilayah). Jadi, UKM atau koperasi berdaya saing tinggi dicirikan oleh: (1) tren yang meningkat dari laju pertumbuhan volume produksi; (2) pangsa pasar (dalam negeri maupun/atau luar negeri) yang terus meningkat; (3) yang melayani tidak hanya pasar domestik tetapi juga melakukan ekspor; dan (4) tidak hanya melayani pasar lokal tetapi pasar nasional (untuk kasus pasar domestik), dan tidak hanya melayani pasar di satu negara saja tetapi juga di banyak negara lainnya (untuk kasus ekspor).

II.4            Identifikasi Ukuran-ukuran Daya Saing bagi Koperasi dan UKM

Seperti telah dibahas sebelumnya (lihat Gambar 1), dalam mengukur daya saing koperasi dan UKM, harus dibedakan antara daya saing dari produk dan daya saing dari perusahaan. Tentu, daya saing dari produk terkait erat (atau mencerminkan) tingkat daya saing dari perusahaan yang menghasilkan produk tersebut. Indikator- indikator yang umum digunakan untuk mengukur daya saing sebuah produk dijabarkan di Tabel 4. Ini adalah indikator-indikator dasar, dan selanjutnya dari sini bisa dihitung sejumlah rasio yang umum digunakan di dalam penelitian-penelitian  empiris  mengenai  daya  saing  di  dalam  perdagangan  internasional,  seperti  misalnya revealed comparative advantage (RCA), constant market share, similarity index, complementarity index, export product dynamics, dan banyak lagi. Menurut Long (2003), kemampuan SMEs untuk melakukan ekspor juga merupakan salah satu faktor yang krusial dalam mengukur daya saing globalnya.

indikator
Sebagai ilustrasi empiris, UKM Indonesia selama ini memang masih relatif lemah dalam ekspor, belum bisa menandingi rekan-rekannya di misalnya Korea Selatan, Taiwan dan Jepang  Misalnya Gambar 2 menunjukkan bahwa sebagai suatu persentase dari total nilai ekspor dari industri manufaktur, ekspor UKM di sektor tersebut sangat kecil. Di dalam kelompok UKM itu sendiri, porsi dari UK lebih kecil dibandingkan rekannya UM. Gambaran yang sama juga didapat jika dilihat dari total nilai ekspor dari semua sektor (Gambar 3). Data ini

menunjukkan seakan-akan ada suatu korelasi positif antara kemampuan melakukan ekspor dan skala usaha.

pangsa ukm dalam total nilai expor

Sedangkan  dalam  mengukur  daya  saing  dari  suatu  perusahaan,  cukup  banyak  alat  ukur  yang  dapat digunakan, yang pada umumnya mengandalkan data sekunder (Tabel 5). Sebagian dari indikator-indikator tersebut dapat juga digunakan untuk mengukur tingkat daya saing dari sebuah produk, seperti yang telah dibahas sebelumnya (lihat Tabel 4). Karena memang tingkat daya saing dari sebuah produk mencerminkan tingkat daya saing dari perusahaan yang membuatnya.

idikator utama daya saing sebuah perush

kontibusi ukm terhadap nilai expor

 

Pertumbuhan Nilai atau Volume Output.

Laju pertumbuhan nilai/volume output tidak hanya menunjukkan tingkat kemampuan produksi dari sebuah perusahaan tetapi juga mencerminkan adanya permintaan pasar terhadap produk tersebut, yang berarti produk tersebut mempunyai daya saing. Sebagai ilustrasi empiris, Gambar 4 menunjukkan laju pertumbuhan output dari UK, UM dan UB. Selama periode yang diteliti tersebut, laju pertumbuhan output dari UK mengalami kenaikan dari sekitar 3,96 persen tahun 2001 menjadi 5,38 persen tahun 2006, sementara dari UM juga mengalami peningkatan dari 4,59 persen menjadi 5,44 persen untuk periode yang sama. Hal ini membuat sumbangan UKM

terhadap pertumbuhan PDB juga mengalami peningkatan dalam periode yang sama (Gambar 5).

laju pertumbuhan DAN sumbangan

Pangsa di dalam PDB.

Semakin tinggi pangsa PDB dari UKM mencerminkan semakin berdaya saing UKM tersebut. Sebagai ilustrasi empiris, Tabel 6 menunjukkan pangsa PDB dari UKM berkisar antara terendah 53,3 persen (2006) dan tertinggi 56,8 persen (2003). Porsi ini, secara rata-rata per tahun, lebih tinggi dibandingkan sumbangan PDB dari UKM di banyak negara ASEAN lainnya. Sedangkan sumbangan ouput dari UKM terhadap pembentukan PDB lintas sektoral dapat dilihat di Tabel 7.

 pangsa pdb DAN struktur pdb

Pangsa Pasar

Pangsa pasar juga merupakan salah satu indikator dari daya saing produk. Untuk pasar dalam negeri, karena tidak ada data mengenai berapa banyak produk yang dibuat UKM di jual di pasar dalam negeri, maka distribusi output menurut skala usaha dan sektor (Tabel 7) dapat digunakan. Hipotesanya, semakin besar pangsa output dari UKM di dalam total output dari suatu sektor, ceteris paribus, semua output di sektor tersebut disuplai ke pasar domestik, semakin besar pangsa pasar domestik dari UKM.

Nilai Omset

Dasar pemikirannya adalah sebagai berikut. Sebuah perusahaan yang nilai omsetnya terus meningkat setiap tahun, yang artinya ada permintaan pasar, adalah perusahaan yang berdaya saing tinggi. Sebagai ilustrasi empiris, koperasi di NM dikenal sangat maju dengan nilai omsetnya yang kompetitif dengan nilai omset perusahaan-perusahaan non-koperasi (Tabel 8). Di Amerika Serikat (AS), pada tahun 2002 jumlah koperasi tercatat mencapai 48 ribu unit di hampir semua jalur bisnis, memberikan pelayanan kepada 120 juta anggota, atau sekitar 4 dari setiap 10 penduduk di negara tersebut.  100 koperasi terbesar di AS, diperingkat menurut omset, secara individu menciptakan paling sedikit 346 juta dollar AS dan dalam total mencapai 119 miliar dollar AS pada tahun tersebut (Tabel 9).

tabel jumlah koperasi pertanian

koperasi terbesar menurut omset

Profit

Dasar pemikiran dari pemakaian profit (nilai atau laju pertumbuhannya rata-rata per tahun) sebagai salah satu indikator daya saing perusahaan adalah sederhana sebagai berikut. Perusahaan yang setiap tahun bisa mendapatkan  keuntungan  atau  yang  keuntungannya  setiap  tahun  bisa  meningkat  adalah  perusahaan  yang berdaya saing. Dalam menilai kinerja koperasi di Indonesia, sisa hasil usaha (SHU) umum digunakan sebagai salah satu indikator kinerja koperasi, dan SHU sama pengertiannya dengan profit di perusahaan non-koperasi. Data yang ada menunjukkan bahwa selama periode 2000-2006 nilai SHU naik dari 695 miliar rupiah tahun 2000 ke 3,1 triliun rupiah tahun 2006 (Tabel 10).

perkembangan usaha koperasi

Tingkat Pendidikan rata-rata Pekerja dan Pengusaha.

Semakin tinggi tingkat pendidikan rata-rata pekerja di suatu perusahaan semakin tinggi daya saing perusahaan tersebut. Untuk UKM, terutama UK, pendidikan pengusaha juga sangat penting (berbeda dengan UB), karena di UK pada umumnya pengusaha/pemilik usaha terlibat dalam hampir semua kegiatan bisnis di dalam perusahaan seperti yang telah dijelaskan sebelumnya.

Pengeluaran R&D

Pengeluaran untuk membiayai kegiatan R&D bisa dilihat sebagai suatu persentase dari jumlah omset. Semakin tinggi rasio tersebut, yang berarti perusahaan bersangkutan aktif melakukan inovasi, semakin tinggi daya saing perusahaan tersebut.

Jumlah Sertifika dan Paten

Sebagai indikator alternatif terhadap indikator ketujuh tersebut, adalah jumlah sertifikat standarisasi (ISO) dan jumlah paten yang dibeli. Semakin banyak jumlahnya yang dimiliki oleh suatu perusahaan berarti semakin tinggi daya saing dari perusahaan tersebut.

Produk terstandarisasi.

Saat ini dalam era perdagangan bebas produk yang terstandarisasi semakin penting, atau dapat dikatakan menjadi suatu keharusan. Standarisasi produk menjadi penentu kualitas dari suatu produk. Dalam isu ini, ironis sekali bahwa, di satu sisi, disadari bahwa kualitas sangat penting untuk bisa unggul di pasar dunia, sedangkan, di sisi lain, Indonesia sampai saat ini masih punya masalah serius untuk memenuhi persyaratan tersebut. Hingga Agustus 2007, pemerintah Indonesia telah menetapkan 3.200 standar nasional industri (SNI), tetapi baru 215

SNI produk yang diwajibkan. SNI yang diwajibkan itu pun sebagian besar masih berlaku sukarela karena baru

34 SNI produk yang dinotifikasi ke Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Tanpa notifikasi, tidak ada mekanisme pengawasan dan sanksi yang dapat diterapkan.

Teknologi yang digunakan

Teknologi  yang  digunakan  dalam  produk  yang  dihasilkan  dan/atau  dalam  proses  produksi  (atau  metode produksi yang diterapkan). Setiap jenis produk memiliki teknologi paling akhir (cutting edge). Berarti setiap perusahaan yang menguasai teknologi paling akhir di bidangnya memiliki daya saing yang tinggi dibandingkan perusahaan yang tidak mengikuti progres teknologi. Pada tahun 2006, Pusat Inovasi SME APEC melakukan suatu studi mengenai daya saing global dari SME di 13 negara APEC (APEC, 2006). Di dalam studi ini, daya saing diukur melalui indeks skor antara 1,0 (daya saing paling rendah) dan 10,0 (daya saing paling tinggi) yang dikembangkan berdasarkan sejumlah faktor termasuk diantaranya jenis teknologi yang digunakan, metode produksi yang diterapkan dan jenis produk yang dibuat yang semuanya mengandung satu unsur penting, yakni teknologi. Hasilnya dapat dilihat di Gambar 6. Indonesia termasuk negara yang UKM-nya berdaya saing rendah dengan skor dibawah 4. Di dalam studi ini juga tunjukkan bahwa Indonesia bersama dengan Meksiko dan Rusia, merupakan negara-negara dengan pendanaan paling kecil bagi perkembangan teknologi di UKM, yakni dengan skor 3,5, padahal, pengembangan teknologi merupakan salah satu sumber penting dari inovasi yang berarti juga dari daya saing.

daya saing ukm

Produktivitas atau Efisiensi.

Indikator ini bisa dijabarkan dalam berbagai rasio. Untuk produktivitas, bisa parsial, misalnya, produktivitas tenaga kerja atau produktivitas modal, atau bisa total dari semua input yang digunakan (yang dikenal dengan sebutan total factor productivity). Sedangkan untuk efisiensi, antara lain, biaya tenaga kerja/unit produk, biaya tenaga kerja/jam, biaya tenaga kerja/pekerja, atau rasio total biaya terhadap total omset.

Investasi

Nilai  investasi  atau  laju  pertumbuhannya  rata-rata  per  tahun  mencerminkan  banyak  hal,  mulai  dari perkembangan kapasitas produksi hingga kegiatan inovasi. Walaupun yang terakhir ini belum tentu, tetapi yang jelas investasi di dalam sebuah perusahaan biasanya terkait erat dengan pengembangan kapasitas produksi yang antara lain dengan melakukan pembelian mesin-mesin baru.

Nilai Mesin dan Peralatan Produksi

Indikator ini mencerminkan dua hal, yakni tingkat mekanisasi (atau modernisasi dalam proses produksi) dan jenis teknologi yang digunakan. Hipotesanya adalah: semakin tinggi nilai suatu mesin mencerminkan semakin canggih teknologi yang terkandung di dalam mesin tersebut. Indikator ini bisa dalam bentuk rasio dari jumlah biaya pembelian mesin terhadap total biaya produksi.

Biaya Pemasaran

Biaya pemasaran juga dapat digunakan sebagai salah satu alat ukur daya saing dari sebuah perusahaan. Dasar pemikirannya sebagai berikut. Suatu produk yang bernilai tinggi (sebut saja, mobil BMW) adalah produk yang didasarkan pada promosi yang besar atau agresif (mulai dari reklame di tv hingga pameran mobil setiap tahun). Di sisi lain, untuk suatu produk yang secara potensial memiliki permintaan pasar yang besar, perusahaan yang membuatnya tidak akan pelit dalam pengeluaran untuk kebutuhan promosi atas produk tersebut. Fakta menunjukkan bahwa perusahaan-perusahaan multinasional dengan berbagai produknya yang menguasai pasar dunia memiliki kegiatan promosi yang sangat besar dan kompleks.

II.3            Prasyarat dan Strategi Pencapaian Daya Saing Yang Tinggi

Dari  uraian  di  atas,  dapat  disimpulkan  bahwa  penentu  utama  daya  saing  dari  suatu  perusahaan  adalah perusahaan itu sendiri, dan pelaku kuncinya adalah pengusaha dan pekerja. Mungkin di UB, pekerja (termasuk peneliti dan pengembang di laboratorium) lebih krusial daripada pemilik usaha atau pengusaha (terkecuali pada tahap awal berdirinya perusahaan, seperti pengalaman dari perusahaan-perusahaan multinasional yang awalnya muncul dari inisiatif, ide, atau kreativitas dari pemiliknya. Banyak contoh, misalnya, Bill Gate yang mendirikan perusahaan Microsoft, keluarga Phillips yang melahirkan perusahaan Phillips, dan keluarga Ford dengan perusahaan mobil Ford-nya). Tetapi di UKM (khususnya UK), sangat berbeda. Di kelompok usaha ini, pengusaha akan selalu berperan penting, karena pada umumnya pengusaha atau pemilik usaha merupakan penggerak utama perusahaan. Ini artinya, kreativitas, spirit entrepreneurship dan jiwa inovatif dari pengusaha yang didukung oleh keahlian dari para pekerjanya adalah sumber utama peningkatan daya saing UKM. Agar pengusaha dan pekerjanya bisa berperan optimal, paling tidak ada lima (5) prasyarat utama, yakni mereka memiliki sepenuhnya pendidikan, modal, teknologi, informasi, dan input krusial lainnya (Gambar 7).

daya saing dan faktor utama penentu utama

Semua itu harus mereka miliki sesuai kebutuhan yang sifatnya tidak statis tetapi dinamis mengikuti tiga perkembangan utama yang akan terus berlangsung, yakni perubahan pasar (terutama permintaan atau selera konsumen dan tekanan persaingan), perubahan ekonomi (nasional dan global), kemajuan teknologi, dan penemuan material-material baru untuk produksi. Bukan suatu hal yang sulit untuk dipahami bahwa UKM di Indonesia pada umumnya tidak sebaik UB atau UKM di NM dalam menghasilkan produk-produk yang kompetitif dan bertaraf dunia karena UKM tidak memiliki kelima prasyarat utama tersebut.

Pemenuhan kelima prasyarat tersebut adalah tanggung jawab sepenuhnya daripada perusahaan dan bagaimana cara memenuhinya adalah bagian dari strategi yang harus dilakukan oleh perusahaan tersebut, bukan pemerintah. Jadi, strategi yang harus dilakukan oleh sebuah perusahaan untuk meningkatkan daya saingnya terdiri  dari  dua  (2)  komponen  atau  sub-strategi.  Komponen  pertama,  strategi  untuk  memenuhi/pengadaan kelima prasyarat utama tersebut. Pertanyaannya disini adalah: bagaimana pengadaan pendidikan, modal, teknologi, informasi dan input secara kontinu dan efisien? Komponen kedua, strategi untuk menggunakan secara optimal kelima prasyarat tersebut menjadi suatu produk yang kompetitif. Pertanyaan disini adalah, misalnya: bagaimana pekerja dengan gelar PhD bisa menghasilkan suatu inovasi? Atau, bagaimana informasi yang didapat mengenai perubahan selera konsumen atau kesepakatan baru WTO mengenai perdagangan internasional bisa dimanfaatkan sepenuhnya menjadi sumber inovasi atau membuat perusahaan bersangkutan yang tadinya tidak masuk hitungan dalam persaingan global menjadi unggul di pasar global setelah perubahan tersebut?

Khusus untuk komponen kedua, perhatian harus ditujukan pada peningkatan dua hal, yakni kemampuan produksi dan kemampuan pemasaran. Upaya peningkatan kemampuan produksi termasuk peningkatan kemampuan teknologi dan kemampuan disain. Sedangkan upaya peningkatan kemampuan pemasaran termasuk promosi, distribusi dan pelayanan pasca penjualan.

Kedua penekanan ini sangat penting, dan pada umumnya UKM di Indonesia kalah bersaing dengan UB atau UKM dari NM karena kurang memperhatikan atau kurang mampu di dalam dua bidang ini. UKM di Indonesia, paling tidak sebagian besar, bukan saja lemah dalam teknologi tetapi juga lemah atau kurang memberikan pertahian dalam strategi pemasaran. Padahal, banyak kasus, menunjukkan bahwa sebuah produk yang dilihat dari aspek teknologinya biasa-biasa saja, namun sangat laku hanya karena pemasarannya yang agresif. Ambil contoh, perusahaan penerbangan Malaysia (MAS/MH). Dalam beberapa tahun belakangan ini, MAS telah menjadi salah satu perusahaan penerbangan yang populer di dunia, bukan karena pelayanannya menjadi lebih bagus daripada perusahaan penerbangan Singapura (SQ), walaupun memang MAS terus meningkatkan kualitas pelayanannya, tetapi merupakan hasil dari promosi yang sangat agresif (termasuk di televise, misalnya CNN) selama ini. Contoh lainnya adalah mobil-mobil buatan Korea seperti Hundai atau KIA, yang semakin laku di Eropa. Padahal kualitasnya masih jauh dibawah kualitas dari mobil-mobil buatan Eropa, tetapi promosinya yang sangat gencar (termasuk mensponsori kegiatan-kegiatan dunia seperti Olimpiade di Yunani beberapa tahun yang lalu) yang membuatnya laku.

Selanjutnya, setiap sub-strategi tersebut bisa dibagi lagi menurut level yang berbeda, yakni strategi pada level internal dan pada level eksternal. Yang dimaksud dengan strategi pada level internal adalah strategi yang dilakukan di dalam perusahaan atau sepenuhnya hanya oleh perusahaan itu sendiri. Misalnya, perusahaan melakukan reorganisasi, pelatihan bagi pekerjanya, perubahan cara pemasaran dan R&D. Sedangkan strategi pada level eksternal adalah strategi yang dilakukan bersama dengan pihak lain, bisa perusahaan lain atau/dan pemerintah. Membangun jaringan kerja dan kemitraan dengan perusahaan-perusahaan lain merupakan bagian yang sangat penting dari strategi ini. Dalam era globalisasi dan perdagangan bebas dunia sekarang ini, dimana persaingan semakin ketat, membangun jaringan kerja atau melakukan kemitraan, merger atau akuisisi sudah umum dilakukan oleh perusahaan-perusahaan multinasional dan terbukti strategi ini sangat ampuh untuk bisa tetap bertahan di pasar global.

Salah satu yang umum disarankan di dalam literatur mengenai UKM adalah mengembangkan UKM yang kompetitif dengan pendekatan clustering. Kerjasama internal yang erat antar sesama UKM di dalam sebuah klaster (atau sentra industri) dalam pemasaran, pengadaan bahan baku, R&D, dll. dan kerjasama eksternal antara  klaster  dengan  pihak-pihak  lain  di  luar  klaster  seperti  perbankan,  lembaga  R&D/universitas,  BDS (business development services), departemen pemerintah, UB (misalnya lewat subcontracting), kadin, asosiasi bisnis, dll. akan menghasilkan keuntungan aglomorasi karena kerjasama seperti itu menghasilkan efisiensi yang tinggi, dibandingkan UKM yang beroperasi sendiri-sendiri.

Tentu dukungan pemerintah juga penting, dan ini masuk dalam strategi perusahaan pada level eksternal.

Namun hal ini tidak boleh menjadi substitusi bagi tanggung jawab perusahaan, melainkan harus bersifat komplementer. Pemerintah tidak boleh membuatkan suatu strategi untuk sebuah perusahaan, tetapi sangat baik jika pemerintah bisa mendukung strategi yang dijalankan oleh perusahaan itu. Sama juga seperti membangun jaringan kerja, yang merupakan bagian dari strategi perusahaan pada level eksternal seperti yang telah dibahas sebelumnya. Jaringan kerja sangat penting, namun strategi inti adalah di dalam perusahaan pada level internal. Dalam kata lain, jangan sebuah perusahaan yang telah membangun suatu jaringan kerja yang kuat dengan pihak luar menjadi sangat tergantung pad ide atau inisiatif atau bantuan dari pihak luar tersebut.

Dukungan pemerintah bisa dalam dua cara, yakni secara tidak langsung dan intervensi langsung. Secara tidak langsung terkait dengan iklim kebijakan dan segala macam peraturan yang tidak khusus ditujukan pada UKM namun sengat mempengaruhi kegiatan dan kemampuan UKM meningkatkan daya saingnya. Kebijakan- kebijakan ekonomi makro yang sangat berpengaruh terhadap iklim berusaha, yang berarti juga UKM adalah kebijakan moneter (suku bunga, inflasi dan nilai tukar), termasuk kebijakan perbankan (perkreditan), kebijakan fiskal (khususnya pengeluaran pemerintah yang sangat berpengaruh pada pertumbuhan ekonomi), kebijakan perdagangan internasional (impor dan ekspor), kebijakan ketenagakerjaan, kebijakan investasi, dan tentu juga segala macam peraturan dibawah wewenang pemerintah daerah yang selama ini banyak mengganggu dunia usaha.

Sedangkan intervensi langsung adalah seperti yang telah banyak dilakukan pemerintah sejak Orde Baru hingga saat ini dalam upaya membantu UKM, mulai dari pemberian skim-skim kredit khusus hingga berbagai macam pelatihan.

II.4            Pola Penyesuaian Daya Saing yang Berkelanjutan Dalam Aspek Ekonomi, Sosial dan Lingkungan Hidup

Dalam perdagangan internasional sekarang ini, baik dalam konteks WTO maupun dalam konteks kesepakatan- kesepakatan bilateral mengenai perdagangan luar negeri, produk-produk yang terstandarisasi menjadi suatu keharusan. Standarisasi yang diterapkan oleh negara pengimpor atau badan perdagangan dunia seperti WTO tidak hanya menyangkut ekonomi  namun juga sosial dan lingkungan hidup. Misalnya, dalam Konperensi Tingkat Menteri WTO di Singapura beberapa tahun yang lalu telah mengarah ke isu-isu seperti tenaga kerja dan lingkungan.

Perkembangan ini jelas mempunyai suatu implikasi serius bagi daya saing yang berkelanjutan dari produk- produk UKM Indonesia. Seperti halnya UB, UKM Indonesia tidak ada pilihan lain selain harus mengikuti persyaratan-persyaratan regional (misalnya dalam konteks ASEAN atau Uni Eropa (UE) atau global (WTO) yang berlaku atau yang akan diterapkan dalam waktu dekat ini untuk memenuhi standarisasi. Sayangnya, justru memenuhi standar kualitas merupakan suatu masalah serius bagi kebanyakan UKM (mungkin juga sebagian UB) di Indonesia (Bigler, 2003).

Terutama yang perlu diperhatikan oleh UKM Indonesia dalam proses produksi mereka adalah menyangkut empat aspek penting berikut ini:

1)      pembuangan limbah tidak sembarangan dan mengurangi polusi dalam proses produski;

2)      ketenaga kerjaan, ini menyangkut terutama keselamatan kerja dan tidak menggunakan buruh anak-anak (yang paling banyak dijumpai di UKM di Indonesia).

3)      tidak menggunakan bahan baku yang sementara terlarang, seperti kayu jati dari hutan di Kalimantan;

4)      tidak menggunakan bahan-bahan beracun atau yang bisa mempengaruhi kesehatan, seperti zat-zat pewarna tertentu untuk pakaian dan makanan.

Tentu, semua langkah tersebut tidak bisa dilakukan sendirian oleh sebagian besar UKM, khususnya UK dan di perdesaan. Oleh karena itu perlu bantuan langsung dari pemerintah dan swasta seperti universitas, lembaga R&D (seperti BPPT, LIPI, lembaga pendidikan, lembaga sertifikasi (Sucofindo), dll., terutama dalam tiga hal utama, yakni:

  1. informasi mengenai segala peraturan menyangkut standarisasi;
  2. modal, karena, misalnya, agar tidak menghasilkan polusi, jelas mesin-mesin yang ada harus disesuaikan, dan ini bisa berarti pembelian mesin-mesin baru, dan ini membutuhkan dana yang tidak kecil.
  3. bantuan teknis dan pelatihan.

Sayangnya selama ini kerjasama antara UKM dan pihak ketiga tidak optimal. Hanya sebagian kecil dari jumlah UKM yang ada di Indonesia pernah bekerja sama atau berurusan dengan misalnya BPPT atau LIPI.

Untuk lebih efektif dan efisien dalam biaya, maka pola penyesuaian daya saing UKM terhadap pemenuhan standarisasi dengan bantuan pihak ketiga, perlu dilakukan dengan suatu pendekatan clustering.

Nama                    : Ari Sulistyawati

NPM                      : 21211084

Kelas                     : 2EB09

Tahun                   : 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: