Review 3 KEDUDUKAN DAN KIPRAH KOPERASI DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN UMKM

REVIEW

KEDUDUKAN DAN KIPRAH KOPERASI DALAM MENDUKUNG PEMBERDAYAAN UMKM

OLEH :

Slamet Subandi∗

 

    III.            Solusi Pemberdayaan Koperasi

Solusi  yang  diperlukan  untuk  memberdayakan  koperasi  sekarang  ini adalah adanya komitmen yang kuat dan sekaligus upaya nyata dari pihak pihak terkait khususnya pemerintah, gerakan koperasi dan lembaga koperasi untuk melakukan pembenahan dalam rangka pemurnian dan revitalisasi kegiatan usaha serta   penguatan   pembiayaan   koperasi.   Alternatif   pemurnian   kelembagaan koperasi dapat dilakukan dengan; a) memperbaiki dan melengkapi aturan perundang-undangan (mempercepat proses penyusunan dan pengesahan RUU per koperasian); b) Melakukan penyuluhan serta pendidikan dan pelatihan kepada anggota pengurus dan Pembina koperasi dengan materi dan metoda yang tepat, agar   mereka   benar-benar   mengetahui   dan   mengerti   koperasi   secara   utuh (Koperasi yang genuine); c) Melakukan sosialisasi/promosi melalui media yang tepat terarah dan terencana serta berkesinambungan; d) Menyusun standar dan metoda  yang  tepat  bagi  mata  ajaran  koperasi  untuk  mendukung  kaderisasi koperasi ditingkat pendidikan dasar, menengah dan perguruan tinggi serta; e) Menyerahkan sebagian besar tugas dan tanggung jawab pembinaan dan pengembangan koperasi kepada gerakan koperasi sendiri.

Alternatif revitalisasi usaha dan penguatan pembiayaan koperasi dapat dilakukan melalui; a) mengkaji secara cermat bidang usaha yang mempunyai keunggulan komparatif yang tepat untuk diusahakan oleh koperasi dan sesuai dengan   usaha   anggotanya   sebagai   fokus   pengembangan   usaha   koperasi; b)  Kegiatan  koperasi  hanya  dilakukan  atas  dasar  perencanaan  dan  kelayakan bisnis   bukan   hanya   karena   adanya   suatu   program   yang   diciptakan   oleh pemerintah (sektoral di tingkat pusat);  c) Membangun jaringan antara koperasi serta dengan lembaga usaha lainnya baik dalam keperluan pengadaan bahan baku dan teknologi maupun pemasaran hasil produksi; d) Merancang sekaligus melaksanakan model pendidikan dan latihan teknis usaha yang sesuai dengan kebutuhan pengembangan usaha anggota koperasi serta; e) Membangun sistem pembiayaan koperasi dengan prioritas pengembangan lembaga interlending dan penjaminan kredit yang handal dan bertanggung jawab.

Dalam membahas peluang koperasi untuk menjadi lembaga alternatif pemberdayaan UKMK juga perlu dikaji hubungan antara koperasi dengan anggotanya yang UKM.  Dalam hal ini salah satu aspek yang menarik untuk diperhatikan adalah “faktor perekat dalam koperasi (antara koperasi dengan anngotanya  dan antar anggota  di  dalam koperasi) adalah, kesamaan (homogenitas)   kepentingan   ekonomi.   Lebih   lanjut   juga   perlu   difikirkan bagaimana jika keberhasilan koperasi telah mampu meningkatkan perekonomian seseorang, sehingga orang tersebut malah merasa tidak memerlukan koperasi lagi. Dalam hal ini perlu disadari bahwa peningkatan kemampuan ekonomi seseorang dapat  menyebabkan  orang  berubah  kepentingannya.  Sehingga  mungkin  saja orang tersebut dapat pindah ke koperasi lain, yang dapat memenuhi kepentingannya. Dengan kata lain faktor homogenitas kepentingan anggota merupakan kata kunci dalam membangun faktor perekat dalam koperasi.

Tidak ada penugasan khusus kepada instansi pemerintah sebagai Pembina untuk  menjadikan  koperasi  sebagai  sebuah  system,  merupakan  salah  satu penyebab dari kesulitan membangun sistem koordinasi antar pembinaan. Menurut Mutis (1999), untuk memberdayakan wirausaha dengan skala usaha kecil, menengah, dan koperasi ataupun kalangan usaha di sektor informal adalah salah satu  bentuk  menterjemahkan  visi  kerakyatan  dalam  fraxis  bisnis  kekinian. Menurut UU nomor 25 tahun 1992 tentang perKoperasian.  koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang-seorang atau badan-badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi, sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasar pada atas asas kekeluargaan.

Karena adanya berbagai penafsiran tentang koperasi sebagai akibat dari bentuk badan usaha ini yang mudah dimasuki oleh unsur-unsur non-ekonomi maka dalam membicarakan koperasi ada baiknya jika lebih dulu disepakati berbagai  aspek  penting  dalam  koperasi  sebagai  berikut:  Dalam  usaha,  petani untuk menaikkan pendapatan keluarga dan faktor konsumsi keluarganya (melalui peningkatan produksi usaha taninya), inilah mereka banyak mengadakan kontak dengan dunia luar, terutama dalam memenuhi kebutuhan sarana produksi. Penggunaan  faktor  produksi  sedikit  banyak  ditentukan  oleh  ketentuan  adat istiadat melalui lembaga tradisional seperti sistem Mapalus di Sulawesi dan sekarang melalaui kelompok tani. Dengan berorganisasi ini, koordinasi pemanfaatan sumberdaya yang langka bisa dinikmati oleh petani-petani individu. Dengan demikian apa yang tampak dalam kehidupan ekonomi para petani adalah hubungan kekerabatan itu sangat erat dan berpengaruh besar, sebab mereka hidup di lokasi yang sama serta mendorong para petani bekerja sama untuk mempertahankan kehidupan.

Berbagai bentuk organisasi ekonomi dan sosial yang ada di pedesaan umumnya dimiliki ciri yang pluratistik. Dengan pengertian luas, yang dikatakan oleh Gunardi (1981) sebagai kolektivisme desa mau kolektivisme asli. Ciri utama kolektivesme tersebut adalah semangat gotong-royong, tolong-menolong, musyawarah untuk mufakat, dan toleransi yang tinggi dalam pola paguyuban yang kuat.

Berbagai bentuk organisasi sosial dan ekonomi yang ada dan berkembang di pedesaan seperti Subak, Mapalus, Lumbung Pitih Nagari pada dasarnya merupakan wujud dari Koperasi Sosial.  Bila lembaga semacam ini dibina maka akan menjadi landasan yang kokoh untuk membangun koperasi Modern yang mandiri, berdaya guna, dan berhasil guna bagi pembangunan ekonomi masyarakat desa dan pedesaan. Bila dibandingkan antara Koperasi Sosial yang telah berkembang sejak berabad-abad yang lalu di perdesaan dalam berbagai bentuk organisasi sosial ekonomi yang diuraikan di atas terlihat hanya sedikit perbedaan yang tidak mendasar, seperti diperlihatkan pada Tabel 1 di bawah ini.

TABEL COVER MODERN

TABEL MODEERN

TABEL MODERN 2

Nama                    : Ari Sulistyawati

NPM                      : 21211084

Kelas                     : 2EB09

Tahun                   : 2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: