RESENSI NOVEL | Ugly Duckling, Beautiful swan- Roslina Verauli, M. Psi.

Image

 

I was an Ugly Duckling, I am A beautiful Swan

Roslina Verauli, M.Psi.

KataKita

Psikologi Populer

147 halaman

 

“Banyak orang merasa dirinya seperti Ugly Duckling, tidak percaya diri sehingga tidak mudah bergaul dan berkembang. Padahal setiap orang punya kapasitas keangsaan: potensi yang dapat dikembangkan agar bisa mengenali dan menghargai diri sendiri. Jangan biarkan dirimu menjadi Ugly Duckling. Tampillah sebagai Beautiful Swan!”

 

Terinspirasi oleh kisah Ugly Duckling, sebuah dongen klasik dari Hans Christian Andersen, Roslina, Penulis buku ini ingin membantu bagi mereka yang sering merasa minder karena kekurangan yang ada pada dirinya. Dengan Atau, mereka yang ingin membantu orang-orang disekitarnya agar dapat mengatasi masalah-masalah kepribadian yang mereka alami.

 

Satu per satu telur itu menetas. Dari dalamnya keluar anak-anak itik yang lucu dengan bulu-bulu kuning dan tubuh bulat kecil. Beriringan anak-anak itik itu berjalan menuju kolam mengikuti induknya. Mereka berloncatan ke dalam kolam dan berenang-renang riang. Sesekali kepala mereka yang mungil dibenamkan ke air dan di saat yang lain menyembul kembali ke permukaan.

 

Ketika Induk Itik kembali ke sarang, ia terkejut masih ada sebutir telur yang belim menenetas.”Betapa besarnya telur ini. Tidak seperti telurku yang lain.” Sejenak ia ragu, namun akhirnya di erami juga telur asing itu. Tak lama kemudian telur itu pun menetas. Dari dalamnya keluar seoorang itik. Induk Itik terpana, alangkah besarnya anak itik ini. Tubuhnya tidak bulat kecil dan berbulu kuning seperti yang lain. “Alangkah buruk rupanya,” gumam Induk Itik kecewa, namun ia tetap mengajak anaknya yang buruk rupa iu menuju kolam untuk bergabung dengan saudara-saudaranya.

 

Si anak Itik Buru Rupa berjalan mengikuti induknya. Ketika harus terjun ke dalam kolam,ia takut. Ia mundur dari tepi kolam dan mengurungkan niatnya berenang. Saudara-saudaranya mencemooh dirinya. Bukan hanya karena ia tidak bisa berenang, tapi juga karena bentuk tubuhnya yang berbeda dengan mereka.

 

Si Anak Itik Buruk Rupa pergi menjauh dari tepi kolam. Ia sedih karena tidak seperti saudaranyayang lain. Seekor induk ayam kemudian datang menghampirinya. “Alangkah buruknya anak itik ini. Seumur hidup belum pernah aku melihat yang seperti ini,” ujarnya sambil mulai mematuk Si Anak Itik Buruk RUpa. Anak itik yang malang itu pergi menjauh dari sang dari sang induk ayam. Ia semakin menyadari betapa jelek dirinya.

Anak Itik Buruk Rupa yang merasa sedih dan kecewa memutuskan pergi jauh agar tak ada yang melihat keburukan parasnya. Sayang, disepanjang perjalanan ia kerap diganggu oleh kawanan hewan lain. Bentuknya terlalu buruk sebagai seekor anak itik. Kehadirannya tidak diterima dan dihina.

 

Suatu ketika ia sampai disebuah sungai kecil. Di sana ia tinggal selama berminggu-minggu hingamusim panas beranjak pergi dan segera digantikan musim dingin. Semua membeku.

 

Suatu hari Anak Itik Buruk Rupa yang malang itu ditemukan oleh seorang petani yang kemudianmembawanya pulang. Petani ingin memeliharanya sambil berharap kelak ia dapat menyantap daging itik itu setelah cukup gemuk. Petani itu punya seorang anak lelaki yang nakal yang senang mengejar-ngejar Si Anak Itik Buruk Rupa. Karena ketakutan, Anak Itik Buruk Rupa kemudian meninggalkan tempat itu. Ia terus berjalan ke mana saja, tanpa tujuan.

 

Waktu berlalu. Suatu hari Anak Itik Buruk Rupa menemukan sebuah danau yang tenang. Anak Itik Buruk Rupa sudah tumbuh dewasa. Musim dingin sudah berganti musim semi yang hangat. Anak Itik Buruk Rupa merasa bahagia.Tanpa sengaja ia mendongakkan kepalanya ke angkasa dan ia melihat sekawanan angsa sedang terbang. Indah. “Seandainya aku bisa seperti mereka,” gumamnya sedih.

 

Dalam kesedihannya ia menyusuri tepian danau. Di seberang danau ia melihat tiga ekor angsa yang indah menyembul dari balik semak. Mereka menatapnya. Kawanan angsa dengan bulu putih yang indah itu bergerak menghampirinya. Anak Itik Buruk Rupa ketakutan. Ia hanya diam, pasrah, menanti apakah mereka akan mematuk dirinya.

 

Saat itulah Anak Itik Buru Rupa melihat bayangan tubuhnya dipermukaan danau. Seketika ia menyadari siapa dirinya. Ternyata dirinya bukan Anak Itik Buruk Rupa, melainkan seekor angsa yang indah.  A Beautiful Swan. “Hai bergabunglah bersama kami,” ajak salah seekor angsa. Dengan bahagia Angsa Indah yang baru tumbuh dewasa itu begabung bersama kawanan angsa lain yang menyambut kehadirannya dengan tangan terbuka. Mereka lalu terbang bersama mengarungi angkasa.

 

Meskipun memiliki kesamaan dengan judul sebuah, buku ini bukan buku dongeng. Sebuah buku yang bermaksud menggambarkan kehidupan nyata sejumlah orang yang merasa tumbuh bagaikan si Ugly Duckling. Orang-orang yang merasa rendah diri, dengan berbagai alasan. Ada yang merana karena tidak berwajah rupawan. Ada yang merasa bodoh karena tidak mampu menjadi juara kelas. Bahkan ada yang merasa berbeda karena tidak terlahir sebagai anak orang kaya seperti yang dikhayalkan.

 

Buku ini, memang terinspirasi oleh kisah Ugly Duckling. Penulis berharap bisa belajar dari dongeng tersebut, khususnya mereka yang pernah atau sedang merasa minder karena berbagai keadaan pada dirinya. Atau, mereka yang ingin membantu orang-orang disekitarnya yang mengalami kehidupan bak Ugly Duckling agar dapat mengatasi masalah-masalah kepribadian yang dialami.

Banyak memahami pertumbuhan sebatas pada perubahan fisik yang kasatmata. Kemampuan seseorang pun hanya dinilai berdasarkan pencapain hasil tindakan. Padahal ada perubahan lain yang juga penting, yaitu perkembangan pemahaman tentang diri (konsep diri). Setiap orang mengalami perkembangan ‘cara memandang diri sendiri’. Perkembangan secara klimaksnya pada masa remaja. Sayang, proses tersebut tidak bisa menjamin perubahan yang sama setiap orang.

 

Ada yang sukses menjalani hidupnya sebagai Beautiful Swan, sosok yang percaya diri namun mampu menghargai diri sendiri. Namun tidak seikit pula yang menjalani hidupnya sebagai Ugly Duckling, sosok yang mengabaikan kemampuaannya sehingga tumbuh dalam ketakbedayaan seseorang yang tidak percaya diri dan sulit menghargai dirinya sendiri.

 

Seseorang yang mau melepaskan diri dari belenggu keminderan ugly duckling-nya, dengan cara berproses menjadi Beautiful Swan. Tetapi banyak orang tidak mengetahui dan secara tidak sadar menolak keluar dari dekapan bayang-bayang sang Ugly Duckling, sehingga terus terjebak mejadi pribadi yang inferior. Hingga dewasa. Bahkan sampai akhir hidupnya.

 

Hidup ini singkat. Sayang bila seseorang tidak bahagia. Agar dunia terkesan lebih luas dan indah, dan hidup lebih bahagia, hanya satu kunci utama : kemauan yang sungguh-sungguh untuk mengubah cara memandang diri sendiri dan dunia sekitar. Dengan cara :

  • Rendah Diri ala Ugly Duckling
  • Percaya Diri ala Beautiful Swan

 

Semua orang yang memasuki usia remaja merupakan fase yang punya arti besar bagi perkembangan diri. Pada usia remaja ditandai dengan pertumbuhan pesat pada bagian fisik dan kematangan organ-organ seksual semata, namun lebih dari itu. Pertumbuhan pada usia remaja juga mencakup perkembangan dalam kematangan berfikir, yang jauh lebih kompleks.

Berfikir layaknya dewasa

Kemampuan dalam berfikir tentang dirinya sendiri, dan juga mampu mengevaluasi pikiran dan ide-ide, yang dapat mengarahkan seseorang untuk sadar dalam mengintrospeksi diri sendiri. Tentu saja, dalam hal ini bisa mendorong konsep diri yang lebih konsisten pada seseorang. Konsep diri merupakan cara pandang melihat dirinya yang mencakup hal-hal seperti : keadaan fisik, bakat dan kemampuan, kepribadian, lingkungan, dll.

Ketika sosialisasi menjadi segalanya

Pada usia remaja, sosialisasi sangat menonjol perannya dalam kehidupan seseorang. Karena mulai sosialisasi dengan teman sebaya atau lingkungannya, seseorang mampu mengembangkan konsep dirinya melalui pemahaman tentang dirinya sendiri.

 

Yang berkaitan dengan inferioritas adalah : Fisik, Bakat dan kemampuan, Kesepian, Kondisi yang berbeda.

Jiwa sosial.

Kita sebagai makhluk sosial harus punya kapasitas berinteraksi dengan orang lain dan menjadi bagian dalam kehidupan sosial disekitar lingkungan. Setiap orang tidak hanya saling membutuhkan, namun juga untuk memahami dirinya sendiri. Pandangan orang sekitar juga memengaruhi bagaimana sesorang dapat memandang dirinya sendiri.

Significants others

Memang tidak semua orangku yang mempunyai pengaruh yang sama atas diri individunya. Yang paling memengaruhi juga orang-orang yang paling dekat dengan dirinya, dalam lingkungannya. Kondisi masyarakat juga turut andil dalam proses ini.

 

Cara-cara ala Ugly Duckling :

  • Mencari danau yang tepat untuk mengubah pikiran

Dapat diartikan sebagai meluangkan waktu untuk menintrospeksi diri sebelum akhirnya memandang ke cermin.

  • Bertapa di danau yang damai

Melakukan sedikit perenungan tentang siapa dan bagaimana dirinya, dapat dilakukan dengan berdiam diri sejenak, yang memiliki waktu luang dengan waktu yang bisa kapan saja. Dapat dikatakan juga introspeksi.

  • Saatnya bercermin di danau

Seseorang dapat menilai dirinya sendiri, khususnya dapat mencari tahu kondisi dan hal-hal yang mendorongnya menjadi tidak percaya diri. Ada kecenderungan manusia untuk melihat kekurangan dirinya secara berlebihan dan melupakan kelebihan yang terpendam didalamnya.

  • Bulu-bulu angsa tidak tumbuh secara instan

Untuk menjadi Beautiful Swan, dibutuhkan usaha yang nyata yang positif dab dibutuhkan waktu yang tidak sebentar.

  • Mengembangkan sayap angsa

Butuh sebuah tindakan nyata guna menjadikan apa pun yang dimiliki menjadi kelebihan yang dapat memudahkan menjadi Beautiful Swan.

  • Beautiful Swan tidak harus berparas indah

Merubah penampilan menjadi lebih ramah, santun dan sopan. Dari segi penampilan fisik juga terlihat rapi dan dapat dilihat menarik.

  • Semua orang berbakat

Setiap orang mempunyai macam-macam bakat dalam dirinya. Jadi kita sebagai manusia harus dapat menggali potensi yang dimiliki dan akan menjadi terlihat menarik serta percaya diri.

  • Setiap orang berbeda

Setiap orang dilahirkan berbeda, jadi setiap orang harus menumbuhkan sayap-sayapnya masing-masing dengan mengandalkan apa yang dimilikinya. Bertemanlah dengan siapa saja, jalin komunikasi yang baik dengan sesama, galilah potensi diri agar dapat diandalkan nantinya.

  • Bergabung dengan sesama angsa

Setiap orang perlu berada di lingkungan yang tepat dan sesuai dengan dirinya. Lingkungan yang menghargai dan menerimanya. Lingkungan yang mengembangkan potensi dan kemampuan yang sama.

  • Hidup adalah pilihan

Seseorang yang mau mengubah cara berpikirnya untuk mengembangkan kualitas-kualitas positif yang ada dalam dirinya, sehingga mampu menghargai dan menyayangi dirinya dan kemudian percaya diri karenanya.

 

Dari novel diatas dapat disimpulkan bahwa si penulis menyarankan untuk melihat kenyataan yang sedang dijalani mampu membuat pilihan yang bermakna bagi diri sendiri agar mampu menyadari bahwa ia adalah Beautiful Swan. Dan kini saatnya untuk mulai berproses. I was an Ugly Duckling, I am a Beautiful Swan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: